Virtual Age

Ketika zaman modern sudah berlalu dan masuklah zaman virtual, zaman ketika dimana semua hal yang ada di dunia ini tidak lepas dari genggaman teori virtual yang dulunya dianggap mustahil. Di tahun 2045, 10 tahun telah berlalu semenjak Dunia Virtual Reality untuk pertama-kalinya diluncurkan di seluruh dunia.

Inter-Spy

Aoshima Kiseki, seorang kelas dua Chugakusei (Murid SMP) biasa dari kota Nami. memiliki seorang adik bernama Aoshima Sora yang ternyata adalah seorang Brocon (Brother Complex). Kisah ini dimulai saat bencana Badai angin panas yang membuat kehidupan Kiseki berubah secara drastis.

Sabtu, 23 Mei 2015

uji coba

 Hah, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan pengalaman yang aneh. Yang mungkin hanya bisa dijelaskan dengan logika. Tapi bagaimanapun itu, aku hanya bisa bernapas lega. Hmph! Setidaknya ada tempat untukku tuk menenangkan diri.
            Yap, di sekolah ini, SMP Nami, tempat satu-satunya yang bisa menetralkan pikiranku. Bagaimana tidak, di markas Inter-Spy ada banyak kesibukan file-file kasus dari seluruh jepang. Kemudian di rumah, rasanya rumahku yang awalnya sanyat menyenangkan untuk ditinggali hingga membuat diriku menjadi seorang hikikomori profesional kini telah berubah seperti medan pertempuran. Belum lagi penderitaan yang telah kurasakan dari kedua tempat itu, ditambah lagi dengan pekerjaan rumahku yang selalu menumpuk. Mencuci, memasak, serta membersihkan seisi rumah itu biasanya akulah yang melakukannya. Adikku hanya membantu menyiram tanaman yang ditanamnya dan juga tanaman hias yang selama ini salalu dirawatnya. Itu pun ia lakukan karena dia memiliki hobi berkebun.
            Ah lupakan saja, yang pasti aku akan menikmati saat-saat indah ini sendiri.

            ‘Haha.. my best place.’ Pikirku dengan wajah berbinar.
            TING! TONG!!
            Suara bel berbunyi, aku dengan malas langsung melirik jam dinding didekat papan tulis hitam itu. ah, tak sadar ini sudah jam 8.30 pagi. Waktunya aku mempersiapkan catatan matematika ku.
            DEG!
            Aku tersadar. Sepertinya ada yang salah dengan buku catatanku!
            Dengan tangan gemetar, aku berusaha menarik nafas dalam-dalam. Duh, kenapa disaat seperti ini, aku...
            ‘...lupa tak mengerjakan PR matematika ku!’
            SREEKK!!
            Sensei pun datang dari pintu kelas bagian depan. Dengan sikapa layaknya robot, aku menoleh kearahnya dengan perasaan takut.
            “...Hehehe.”
            Eh? Kenapa sensei terlihat begitu senang. Oh tidak, mungkinkah akan ada ulangan mendadak?! Sial, aku masih belum belajar.
            “Nah, semuanya...” seisi kelas pun terdiam.
            “Kita kedatangan seorang murid baru!”
            “eh?” ternyata dugaanku salah.
            ‘Murid baru? Tumben sekali.’ Pikirku.
            Tak mempedulikan sang sensei. aku pun menyandarkan kepala pada tangan kananku. Hah, lupakan tentang PR matematika. Sekarang aku harus bisa merilekskan diriku pada saat-saat seperti ini. Lalu aku merogoh tasku dan mengambil jus jeruk kemasan kecil yang sebelumnya ku persiapkan dari perjalananku ke sekolah barusan. Diam-diam aku meminumnya.
            Aku terus menyedot minuman kotak itu.
            ‘Huah, menyenangkan sekali!’
            Di sisi lain, sensei mulai melanjutkan perkataannya.
            “Nah, Miyamoto~san. Anda boleh masuk sekarang.” Perintah sensei pada murid baru di depan pintu masuk, semuanya nampak penasaran.
            Tunggu...! Miyamoto~san?!
            Kemudian aku melirik ke arah sensei sambil terus menyeruput jus jerukku.
            “Namaku Motomiya Sakura, Yoroshiku!” sahut murid baru itu.

            BUUOOSSHHH!
            Seketika aku menyemburkan seluruh jus jeruk yang ku minum. Aku tak menyangka! Di-dia, mengikutiku hingga sampai kesini?! Yang benar saja!
            Aku langsung lemas ditempat.
            “Oh, rasanya ingin mati saja.” Gumamku.
            “Kami~sama, ambil saja nyawaku sekarang. Aku tak sanggup lagi!”
            ...
            Tak terasa, bel istirahat pun berbunyi. Seisi kelas hanya mendesah bahagia (menurutku), karena pelajaran matematika yang kuanggap mengerikan itu telah selesai. Aku yang mengetahuinya pun mencoba merenggangkan otot-otot tangan dan kakiku. Uwah! Akhirnya selesai juga!
            “Hei, Motomiya~san, kau pindahan dari SMP mana?”
            “Kalau kau masih kebingungan dengan sekolah ini, aku akan membantumu.”
            “Apakah ada orang yang kau sukai disini?”
            Hm, hampir semua anak perempuan dikelas ini saling mengerubungi Sakura, wajar saja, dia kan masih baru disini. Mungkin saja dia dapat menemukan teman baru disini.
            Aku mengambil kotak bento milikku dari dalam tas, lalu membawanya keluar kelas.
            ‘Hah, sebaiknya aku makan siang di atap saja. Aku tak suka keramaian seperti ini.’ Pikirku sesekali melirik kearah seisi kelas.
            Aku mendesah, serta kembali menghela nafas...
            “Bel masuk akan berbunyi sepuluh menit lagi. Aku harus bergegas sebelum istirahat siang ini berakhir.” Gumamku sambil melirik ke arah jam dinding.
            ...
            Ada yang aneh, tak biasanya aku merasa sebebas ini. Padahal kukira dengan adanya Sakura disini pasti akan terjadi kekacauan antara aku dengannya. Namun sepertinya tebakanku salah, dia sama sekali tak mengungkit-ungkit tentangku di kelas. Bahkan selama disekolah dia sama sekali tak berbicara denganku, meskipun hanya sekedar menyapaku, dia tak melakukannya. Menganggap di kelas ini aku sama sekali tak ada.
            Ngomong-ngomong yang kutahu, Sakura itu adalah seseorang yang pandai memanipulasi emosinya dan pandai mengadaptasikan emosinya dengan lingkungan yang dihadapinya. Jika di tempat itu suasananya sedang serius, perilakunya kan mendingin. Namun jika di tempat seperti ini, di sekolah, dia akan akan menjadi sosok yang sangat hangat dan bersahabat.
            Memang cocok sekali dengan pekerjaannya sebagai seorang Spy.
            Namun, aku mulai berpikir kembali. Lantas kemampuan apa yang kumiliki sebagai seorang Spy? Padahal yang kutahu dari Sakura, Leader tak akan salah merekrut anggota Inter-Spy. Dan rata-rata mereka yang direkrut oleh Leader adalah para Spy yang memiliki kemampuan maupun kekuatan di atas rata-rata. Bukannya sekarang aku bangga karena direkrut langsung oleh Leader, tapi aku jadi sedikit ragu. Apakah Leader tak salah dalam memilihku sebagai anggota Inter-Spy?
            ...
            Rencananya aku akan bertanya langsung pada Sakura. Kenapa disekolah ia mencampakkan diriku? Meskipun ini adalah pertanyaan yang simpel dan terlihat menjijikkan bagai seorang kakak yang siscon terhadap adik permpuannya, tapi aku akan mencoba berusaha untuk bisa menahan muka dalam masalah yang satu ini.
            “Tenang saja, ini hanya kedok agar tak ada siapapun mengetahui pergerakan kita.”
            Akhirnya aku bisa berbicara dengannya juga. Aku bisa bernapas lega. Ngomong-ngomong tadi aku berkata akan berusaha menahan muka, kan? itulah yang kucoba barusan. Saat itu Sakura berada di depanku bersama teman-teman barunya, dan sekilas dalam kepalaku pun terpikirkan hal yang seperti itu.
            ‘Ah, aku punya ide bagus!’ pikirku dengan wajah sumingrah.

            Lalu kemudian aku berlari seraya menarik tangan Sakura saat ia tengah asyik berbicara dengan teman-teman barunya itu. Dan, yah, kau tahu kan... ujung-ujungnya aku terkena pukulan spesial yang mengenai perutku. Hoek!
            O-oh, te-ternyata menahan mu-muka itu menya-nyakitkan!
            Aku hanya bisa merintih.
            “Tapi di sekolah ini tak ada hubungannya dengan misi pertama kita, kan?” aku melanjutkan percakapanku dengannya yang sempat tertunda.
            Sakura yang mendengar apa yang dikatakan aku langsung menggeleng kepala.
            “Tidak, ini ada hubungannya.” Kata Sakura dengan tatapan serius.
            “Ma-maksudmu?”
            “Benar, ada anggota organisasi pro-republik disekolah ini.”
            DEG!
            “Kau.. kau jangan bercanda!”
            “Bercanda, katamu?”
            “...memangnya apa gunanya aku membohongimu saat ini?!” lanjutnya.
             Aku pun seketika kaget mendengarnya, ma-mana mungkin! Aku tak menyangka, di sekolah ini?
            Aku pun menatapnya dengan pandangan serius.
            “Jadi siapa dia? Namanya?”
            “Dia adalah sensei di sekolah ini. Berbicara tentang namanya, aku tak tahu...”
            “Lantas kenapa?!” potongku dengan nada menjerit.
            “Tapi kalau tidak salah, dia adalah seorang sensei yang mengajar matematika tadi pagi.” Lanjutnya.
            ***
つづく...
(Bersambung...)