Hah, beberapa hari
yang lalu aku mendapatkan pengalaman yang aneh. Yang mungkin hanya bisa
dijelaskan dengan logika. Tapi bagaimanapun itu, aku hanya bisa bernapas lega.
Hmph! Setidaknya ada tempat untukku tuk menenangkan diri.
Yap, di sekolah
ini, SMP Nami, tempat satu-satunya yang bisa menetralkan pikiranku. Bagaimana
tidak, di markas Inter-Spy ada banyak kesibukan file-file kasus dari seluruh
jepang. Kemudian di rumah, rasanya rumahku yang awalnya sanyat menyenangkan
untuk ditinggali hingga membuat diriku menjadi seorang hikikomori profesional kini
telah berubah seperti medan pertempuran. Belum lagi penderitaan yang telah
kurasakan dari kedua tempat itu, ditambah lagi dengan pekerjaan rumahku yang
selalu menumpuk. Mencuci, memasak, serta membersihkan seisi rumah itu biasanya
akulah yang melakukannya. Adikku hanya membantu menyiram tanaman yang
ditanamnya dan juga tanaman hias yang selama ini salalu dirawatnya. Itu pun ia
lakukan karena dia memiliki hobi berkebun.
Ah lupakan saja,
yang pasti aku akan menikmati saat-saat indah ini sendiri.
‘Haha.. my best
place.’ Pikirku dengan wajah berbinar.
TING! TONG!!
Suara bel
berbunyi, aku dengan malas langsung melirik jam dinding didekat papan tulis
hitam itu. ah, tak sadar ini sudah jam 8.30 pagi. Waktunya aku mempersiapkan
catatan matematika ku.
DEG!
Aku tersadar.
Sepertinya ada yang salah dengan buku catatanku!
Dengan tangan
gemetar, aku berusaha menarik nafas dalam-dalam. Duh, kenapa disaat seperti
ini, aku...
‘...lupa tak
mengerjakan PR matematika ku!’
SREEKK!!
Sensei pun datang
dari pintu kelas bagian depan. Dengan sikapa layaknya robot, aku menoleh
kearahnya dengan perasaan takut.
“...Hehehe.”
Eh? Kenapa sensei
terlihat begitu senang. Oh tidak, mungkinkah akan ada ulangan mendadak?! Sial,
aku masih belum belajar.
“Nah, semuanya...”
seisi kelas pun terdiam.
“Kita kedatangan
seorang murid baru!”
“eh?” ternyata
dugaanku salah.
‘Murid baru?
Tumben sekali.’ Pikirku.
Tak mempedulikan
sang sensei. aku pun menyandarkan kepala pada tangan kananku. Hah, lupakan
tentang PR matematika. Sekarang aku harus bisa merilekskan diriku pada
saat-saat seperti ini. Lalu aku merogoh tasku dan mengambil jus jeruk kemasan
kecil yang sebelumnya ku persiapkan dari perjalananku ke sekolah barusan.
Diam-diam aku meminumnya.
Aku terus menyedot
minuman kotak itu.
‘Huah,
menyenangkan sekali!’
Di sisi lain,
sensei mulai melanjutkan perkataannya.
“Nah,
Miyamoto~san. Anda boleh masuk sekarang.” Perintah sensei pada murid baru di
depan pintu masuk, semuanya nampak penasaran.
Tunggu...!
Miyamoto~san?!
Kemudian aku melirik
ke arah sensei sambil terus menyeruput jus jerukku.
“Namaku Motomiya
Sakura, Yoroshiku!” sahut murid baru itu.
BUUOOSSHHH!
Seketika aku
menyemburkan seluruh jus jeruk yang ku minum. Aku tak menyangka! Di-dia,
mengikutiku hingga sampai kesini?! Yang benar saja!
Aku langsung lemas
ditempat.
“Oh, rasanya ingin
mati saja.” Gumamku.
“Kami~sama, ambil
saja nyawaku sekarang. Aku tak sanggup lagi!”
...
Tak terasa, bel
istirahat pun berbunyi. Seisi kelas hanya mendesah bahagia (menurutku), karena
pelajaran matematika yang kuanggap mengerikan itu telah selesai. Aku yang
mengetahuinya pun mencoba merenggangkan otot-otot tangan dan kakiku. Uwah!
Akhirnya selesai juga!
“Hei,
Motomiya~san, kau pindahan dari SMP mana?”
“Kalau kau masih
kebingungan dengan sekolah ini, aku akan membantumu.”
“Apakah ada orang
yang kau sukai disini?”
Hm, hampir semua
anak perempuan dikelas ini saling mengerubungi Sakura, wajar saja, dia kan
masih baru disini. Mungkin saja dia dapat menemukan teman baru disini.
Aku mengambil kotak
bento milikku dari dalam tas, lalu membawanya keluar kelas.
‘Hah, sebaiknya
aku makan siang di atap saja. Aku tak suka keramaian seperti ini.’ Pikirku
sesekali melirik kearah seisi kelas.
Aku mendesah,
serta kembali menghela nafas...
“Bel masuk akan berbunyi
sepuluh menit lagi. Aku harus bergegas sebelum istirahat siang ini berakhir.”
Gumamku sambil melirik ke arah jam dinding.
...
Ada yang aneh, tak
biasanya aku merasa sebebas ini. Padahal kukira dengan adanya Sakura disini
pasti akan terjadi kekacauan antara aku dengannya. Namun sepertinya tebakanku
salah, dia sama sekali tak mengungkit-ungkit tentangku di kelas. Bahkan selama
disekolah dia sama sekali tak berbicara denganku, meskipun hanya sekedar
menyapaku, dia tak melakukannya. Menganggap di kelas ini aku sama sekali tak
ada.
Ngomong-ngomong
yang kutahu, Sakura itu adalah seseorang yang pandai memanipulasi emosinya dan
pandai mengadaptasikan emosinya dengan lingkungan yang dihadapinya. Jika di
tempat itu suasananya sedang serius, perilakunya kan mendingin. Namun jika di
tempat seperti ini, di sekolah, dia akan akan menjadi sosok yang sangat hangat
dan bersahabat.
Memang cocok
sekali dengan pekerjaannya sebagai seorang Spy.
Namun, aku mulai
berpikir kembali. Lantas kemampuan apa yang kumiliki sebagai seorang Spy?
Padahal yang kutahu dari Sakura, Leader tak akan salah merekrut anggota
Inter-Spy. Dan rata-rata mereka yang direkrut oleh Leader adalah para Spy yang
memiliki kemampuan maupun kekuatan di atas rata-rata. Bukannya sekarang aku
bangga karena direkrut langsung oleh Leader, tapi aku jadi sedikit ragu. Apakah
Leader tak salah dalam memilihku sebagai anggota Inter-Spy?
...
Rencananya aku
akan bertanya langsung pada Sakura. Kenapa disekolah ia mencampakkan diriku?
Meskipun ini adalah pertanyaan yang simpel dan terlihat menjijikkan bagai
seorang kakak yang siscon terhadap adik permpuannya, tapi aku akan mencoba
berusaha untuk bisa menahan muka dalam masalah yang satu ini.
“Tenang saja, ini
hanya kedok agar tak ada siapapun mengetahui pergerakan kita.”
Akhirnya aku bisa
berbicara dengannya juga. Aku bisa bernapas lega. Ngomong-ngomong tadi aku
berkata akan berusaha menahan muka, kan? itulah yang kucoba barusan. Saat itu
Sakura berada di depanku bersama teman-teman barunya, dan sekilas dalam kepalaku
pun terpikirkan hal yang seperti itu.
‘Ah, aku punya ide
bagus!’ pikirku dengan wajah sumingrah.
Lalu kemudian aku
berlari seraya menarik tangan Sakura saat ia tengah asyik berbicara dengan
teman-teman barunya itu. Dan, yah, kau tahu kan... ujung-ujungnya aku terkena pukulan
spesial yang mengenai perutku. Hoek!
O-oh, te-ternyata
menahan mu-muka itu menya-nyakitkan!
Aku hanya bisa
merintih.
“Tapi di sekolah
ini tak ada hubungannya dengan misi pertama kita, kan?” aku melanjutkan
percakapanku dengannya yang sempat tertunda.
Sakura yang
mendengar apa yang dikatakan aku langsung menggeleng kepala.
“Tidak, ini ada
hubungannya.” Kata Sakura dengan tatapan serius.
“Ma-maksudmu?”
“Benar, ada
anggota organisasi pro-republik disekolah ini.”
DEG!
“Kau.. kau jangan
bercanda!”
“Bercanda,
katamu?”
“...memangnya apa
gunanya aku membohongimu saat ini?!” lanjutnya.
Aku pun seketika kaget mendengarnya, ma-mana
mungkin! Aku tak menyangka, di sekolah ini?
Aku pun menatapnya
dengan pandangan serius.
“Jadi siapa dia?
Namanya?”
“Dia adalah sensei
di sekolah ini. Berbicara tentang namanya, aku tak tahu...”
“Lantas kenapa?!”
potongku dengan nada menjerit.
“Tapi kalau tidak
salah, dia adalah seorang sensei yang mengajar matematika tadi pagi.”
Lanjutnya.
***
つづく...
(Bersambung...)









0 komentar:
Posting Komentar